Minggu, 11 Januari 2015

menikah bukanlah tujuan akhir

Weizz..ngeri banget ya judulnya, kesannya berat gitu ya, bahasnya soal nikah, soal jodoh, ahahahaaa :D
Membuat tulisan ini bukan karena aku iri kepada siapapun yang sudah menikah, bukan pula bentuk ratapan karena jodohku belum datang, bukan pula bentuk sensitifitas ku pada siapapun pasangan yang sudah menikah...Bukan..bukan..Insha Allah aku turut senang kepada siapapun yang sudah dipertemukan dengan jodohnya lalu menyegerakan perintahNya untuk menikah .

Setelah lulus kuliah di tahun 2012 dan sudah mulai konsisten berkarya di duniaku (pendidikan anak), ada salah satu mimpi dalam hidupku selanjutnya yaitu Menikah. Beberapa waktu yang lalu aku sempat terbawa arus sibuk mencari jodoh. Asyik deh hunting &beli buku-buku tentang pernikahan. Asyik menonton Film yang ada hubungannya dengan pernikahan. Rasa-rasanya Serba indah, hm..serba indah atau malah serba salah ya, hehe...

Sosial media juga semakin hari semakin gencar dengan berita atau artikel-artikel tentang jodoh dan pernikahan, sehingga berhasil banget membuatku kala itu hanya fokus pada persoalan jodoh dan menikah.
Membeli buku2 pernikahan, mencari informasi tentang hal-hal tersebut tentu tak ada salahnya, itu bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk usaha mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh dan pernikahan. Yang menjadi masalah adalah ketika kita kebablasan menganggap menikah sebagai tujuan akhir hidup kita. Iya kita tahu tujuan kita dihidupkan ke dunia ini itu untuk ibadah, dimana Ibadah itu memiliki makna yang luas, menikah juga salah satu bentuk ibadah. Namun karena saking fokusnya akan persoalan jodoh dan menikah, kenyataanya seringkali kita justru terlalu sibuk mengira-ira siapa jodoh kita hingga lupa akan hal lainnya. Hingga tanpa sadar kita mendahului sutradara dalam kehidupan kita yang sesungguhnya.  Postingan ini bukan bentuk tentangan akan hal jodoh dan menikah. Sudah sangat jelas diatas bahwa aku pun ingin menikah.
Postingan ini hanya bentuk renungan atas cerita hidupku sendiri saat *bar-bar,terlalu sibuk memikirkan mana jodohku, kapan aku menikah, dan sebangsanya.

Aku tak akan berlarut-larut menyesali fase hidupku yang lalu.
InshaAllah aku mulai bisa berdamai dengan masa lalu.
Bukankah menyesal itu tak profesional, kalau aku diam dan tak berbuat apa-apa.
Sekarang usiaku sudah 24th, sudah bukan remaja lagi, jalan pikiran dan sikapku tentulah sudah jauh berbeda dari meta setahun atau dua tahun yang lalu. Sudah seharusnya semakin mendewasa. Cara menyambut jodohnya pun sudah seharusnya tak kekanakan lagi. Tak boleh lupa bahwa jodoh & menikah bukan perkara manusia dengan manusianya lainnya saja, tapi lebih intim lagi, yaitu antara aku, Allah dan dia (jodohku).
Bila hingga detik ini masih sendiri, berarti masih diberi kesempatan belajar di kelas menumbuhkan prasangka baik padaNya, bahwa Allah masih mempercayakan kemuliaan itu pada diri ini.
Semangat mengisi dan menikmati hari-hari selanjutnya dengan banyak hal yang bermanfaat, teruslah belajar, jangan mengeluh dan ingatlah bahwa menikah hanyalah sebagian kecil dari perkara kehidupan. Meski kecil namun tetap harus kita sambut dengan suka cita dan kesiapan diri yang lebih matang.
Jadi ingat cuplikan-cuplikan obrolan dengan teman-teman yang sudah menikah, seperti ini:
“...Hei..kalau ingin menikah, berarti siap-siap terima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan kita ya”
(Terdengar mudah saat merasa asal sudah cinta, prakteknya? Embuh kuwi...)
“...kalau sudah mau menikah, jangan sampai mudah bilang pisah ya, menikah tak seperti saat pacaran yang dengan mudah bilang putus terus minta balikan terus putus terus balikan lagi..Hadeih..itu sih namanya belum SIAP nikah”
(Astagfirullah...itu minta cerai ya namanya,,jangan sampai Yaa Allah, Jangan.)
“...kalau ada jomblowan/jomblowati yang sering bilang begini, makanan sesederhana apapun asal dimakan dengan orang yang kita sayang pasti jadi lebih nikmat!”
( Huwee,,,itu ngga berlaku kalau lagi mabok pas hamil..huwek..gombale polll)

Lots of Love
@bundameta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar