Minggu, 11 Januari 2015

Paling Enak Jadi Anak #1

Setiap hari mengamati anak-anak bermain itu rasanya seperti sedang menonton film 
Melihat mereka berlari kesana kemari, tersenyum, tertawa atas hal-hal yang mereka anggap lucu, yang menurut orang dewasa disekitarnya dianggap sama sekali tak lucu, mereka tetap ceria dan gembira.
Mengamati cara mereka menarik  perhatian orang-orang dewasa disekitarnya sungguh menggemaskan.
Mereka itu Cerdas Luar biasa.
“bunda..aku lepas kerudungnya saja ya”
“kenapa sayang” tanyaku sembari memeluk
“Sumuk ahh...” jawabnya manja sembari melepas kerudung kemudian mengibaskan rambutnya
“Ohhh....Okey sayang” aku tersenyum gemas, dan tersadar bahwa anak tersebut ingin menunjukan rambutnya yang baru dipotong
“ihh cantik sekali,,,rambutnya baru dipotong yah,,wah tambah manis
“hihiii...aaah...ini potong kemarin di salon bunda, sebelum dipotong dikeramasin pake air dingin terus dikeringin terus baru dipotong, jadi nggak geli ” jawabanya malu-malu tapi senang bukan kepalang karena berhasil menunjukan rambut barunya

Ahai...gimana? cerdas sekali kan mereka itu

Untuk bisa memahami anak-anak itu gampang-gampang susah.
Gampang kalau  kita mau belajar, dan ga akan susah kalau kita mau mendengar mereka lebih banyak.
Lama-lama kita akan terbiasa dan bisa memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Ahh...Tuhan,
Aku merindukan masa kecilku dulu
*terkadang muncul pikiran “apakah aku berevolusi terlalu cepat?” hahaha...
Sungguh ingin merdeka seperti mereka
Bebas dari persepsi, dan selalu menganggap sesuatu yang baru  dilihat, dirasakan, didengar, itu begitu mengagumkan dan berkesan.
Setelah dewasa, terkadang sesuatu yang luar biasa saja terasa biasa saja.
Tak pernah puas!
Dasar! Lagi-lagi,,,,hilang syukurnya
Bahagianya bisa selalu dekat dengan anak-anak :*

Lots of Love
@bundameta
Tuhan masih berkenan membangunkan kita pagi ini,
Itu berarti ada hal besar dan penting yang masih harus dikerjakan,
Selamat pagi. #agussukoco

Kalimat indah diatas saya ambil dari status facebook seorang guru saya di setiap juguran syafaat yaitu mas agus sukoco.
Kalimatnya tak panjang namun dalam.
Tetiba tumbuh semangat lebih untuk menjalani aktivitas hari-hari.
Kita masih diberi kesempatan hidup oleh-Nya tentu bukan tanpa maksud.
Ada banyak hal yang menanti kita semua, bukan sekedar pekerjaan dalam dunia profesional yang harus dikerjakan, namun pekerjaan hidup lainnya.
Tuhan memberikan waktu yang sama untuk semua makhluknya yaitu 24 jam tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang.  Proses bergantinya menit ke menit juga selalu sama. Hanya saja kegiatan apa yang kita lakukan dari menit ke menit, jam ke jam lah yang membedakan. Mungkin banyak yang jam 3 pagi sudah bangun dengan penuh semangat ingin bertemu Tuhan melalui shalat tahajudnya, bermanja-manja mesra dengan Tuhannya. Di belahan bumi lain di jam yang sama  mungkin masih ada yang baru akan menuju jalan kerumah setelah sibuk semalaman menyelesaikan pekerjaan atau melakukan kegiatan lainnya. Atau misal seperti saya yang lebih sering jam segitu masih asyik terlelap dibalik selimut mendekap bantal dengan erat. Berdalih lelah karena berkegiatan seharian.
Ada banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan kegiatan yang positif dan produktif, namun tak sedikit juga yang mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang sia-sia.

lalu, yang mana kita?

lots of love
@bundameta


Pas! Tak Berlebihan

Segala sesuatu yang berlebihan pasti bikin enek!
You know enek? Enek it means mblenek, ngga enak, ngga nikmat, ngga pas gitu.
Aku kasih contoh ya, hmm..okay aku ambil cerita pengalamanku saja ya hehe..always based on my experience.
Aku inget dan belajar banget deh dari pengalaman selama bulan ramadhan kemarin.
Setiap menjelang magrib pasti tiba-tiba muncul banyak banget keinginan buat nyimpen makanan ini itu untuk buka puasa. “aha...es kopyor enak nih, mie lidi atau cireng depan metro juga gurih pasti, bakso solo.nya pak tejo juga seger tuh buat buka, dan masih banyak lainnya”. Padahal ibu dirumah juga sudah masak cukup banyak, pasti ada nasi, ada lauk pauk, bahkan dilebihkan selalu ada takjilnya.
Terus, ketika dengar Adzan magrib, segera minum air putih atau teh manis rasanya gimana? Enak bin nikmat luar biasa...terus nyemil takjil,,habis itu apa yang sering dirasakan? Merasa kenyang bukan? Hahaahaa...Yaa Ampun, ngeliatin begitu banyak makanan yang tadi saat puasa begitu diinginkan, setelah diberi kesempatan buka justru hilang selera. Senyum sumringah kita ketika membayangkan keinginan buka dengan makanan/minuman ini dan itu tetiba sirna. Sudut elevasi senyuman kita yang tadinya mengembang sempurna, lama-lama semakin mendatar bahkan kening ikut mengernyit, lalu belum apa-apa sudah mengeluh “Kenyang bu...huhuuuu”. Nah, Kalau sudah begitu biasanya ibu Cuma nyengir sambil ngeledek “ mau buka sama apa lagi mba? Soto? Sate? Es Teh? Habiskan semua yang dimeja :D”. Jleb banget deh, hingga tak sanggup menimpali kalimat ibu tadi.
Dan You Know What? Itu ga sekali dua kali, tapi sering hehee...Dohh..parah ya.
Okay sekarang aku ceritakan pengalaman buka puasaku lainnya, namun masih diruangan yang sama, dengan meja, kursi, piring, sendok dan gelas yang sama. Serta orang-orang kesayangan yang sama yaitu bapak, ibu, dan kedua adikku.
Ceritanya saat itu aku dan adikku Aqila baru pulang dari sekolah itu sore sekali sekitar jam setengah 5 lebih dari atas (Baturraden). Sepanjang perjalanan pulang kami melewati banyak sekali yang jualan takjil makanan/minuman macam-macam. Anehnya, hari itu aku tak tergerak sedikitpun untuk menyempatkan mampir dan membeli seperti hari-hari sebelumnya. Yang ada dalam benak pikiranku saat itu adalah aku harus segera cepat sampai kerumah, ibu pasti kerepotan sekali karena harus mengurusi takjil untuk orang-orang di mushola, harus  masak untuk suami dan anak-anak kesayangannya.
Jalanan disekitar HR.Bunyamin hingga perempatan RS.DKT yang selalu ramai, membuatku merasa perjalananku kerumah jadi lamban, tapi aku tetap berusaha tenang, supaya tak terjadi apa-apa, sebab adikku sudah lelap tidur dalam pangkuanku. “Dek..10 menit lagi kita sampai rumah dek...jalanannya ramai banget,,kerjasama yuk,,bangun sebentar saja,,” aku terus berusaha membujuknya agar mau bangun, Tak tega sebenarnya membangunkannya, tapi ini demi keselamatan kami bersama L.
Teng..jam setengah 6 kami sudah sampai dirumah, alhamdulillah, kulihat ibu sedang menata takjil makanan dan minuman untuk orang-orang di mushola.
“Maaf bu kami telat, ada yang harus ita selesaikan tadi”
“oh, ya, ya, ndak apa, mandi lah dulu, dek qila mandi juga ya”
“Siap” jawab kami kompak
Masuk rumah, meletakan tas, menyambar handuk, seharusnya langsung masuk kamar mandi ya, tapi aku mampir ke meja makan dulu hehe.
Terhidang pecel dan tempe...* menggiurkan, segera bergegas mandi
Selesai mandi, sudah segar dan wangi, terdengar suara adzan magrib
“Alhamdulillah” kuraih segelas teh hangat pekat tanpa gula lalu kuminum, nikmat banget deh .
Melihat isi meja yang biasanya banyak makanan, dan hari itu hanya tersaji nasi, pecel dan tempe justru tampak begitu menggiurkan. Yang awalnya mau menanyakan menu lain akhirnya kuurungkan. Kurang ajar banget ya, kemana rasa syukurku, pecel dan tempe kubilang HANYA. Astagfirullahal’adzim..malu Yaa Allah malu..! #wakeupcall
“Bismillahirahmannirahim...nyam...” lahap sekali makanku saat itu, gak nengok kanan kiri, tandas habis, hingga bersih..sih..kuambil porsi yang pas, tak terlalu banyak, nikmatttt sekali. Ngga ada deh rasa kenyang duluan sebelum makan, kenyangnya pas setelah makan, ketika sujud shalat pun tak begah rasa perutku .
“ini buka puasa ternikmat selama puasa ini bu  Pas,,Tak berlebihan”
“Alhamdulillah  “ kata ibu mengucap syukur

Well, panjang bener ya nulisnya hehe..semoga ga bosen ya,
Yuk kita refleksikan atas secuil pengalamanku tadi:
1.        Emang bener ya kata Allah bahwa dalam segala hal kita tak boleh berlebih-lebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu tak baik. Kalau tak baik sudah jelas itu sama dengan tak enak, tak nikmat, intinya ngga tepat. Ketika merasa terbatas justru kita bisa jadi mampu merasakan rasa nikmat itu sendiri.
2.      Makna puasa yang dulu hanya kupahami sebagai proses menahan lapar, menahan haus, menahan amarah, mencoba merasakan jadi orang yang kekurangan makanan/minuman. Sekarang aku mengambil makna puasa itu sebagai proses menahan rasa ingin. Ingin makan ini itu, ingin minum ini itu, ingin melakukan ini itu, ingin membeli ini itu, ingin berkomentar ini itu, dan menahan rasa ingin yang lain lagi. mungkin boleh kalian bilang aku telat memikirkannya tapi tak apa lah, yang penting aku mau terus berusaha mencari makna dari apapun yang aku jalani, mencari makna atas apa yang menjadi perintah-Nya. Dan mengaplikasikan makna puasa ini tak hanya dibulan Ramadhan saja, tapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Mulailah belajar memilah mana kebutuhan mana keinginan. Semoga Puasa kita tak selesai hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Semangat Ramadhan setelah ini bukannya menguap tapi semoga justru semakin menguat.
3.      Bersyukur! Yak..bersyukur..mudah diucapkan namun sering kita lalaikan. Hm..bukan kita,,tapi aku!
Yuk diawali dari “Waktu” yang Allah berikan padaku. Segera kutelusuri jejak waktu yang Allah berikan padaku lalu kuhabiskan tanpa sisa. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah “Kau habiskan Waktu dari Allah 24 jam, tak lambat dan tak cepat selalu sama 24 Jam setiap harinya, untuk apa saja?” Selain waktu tentulah masih banyak nikmat lainnya. Nikmat nafas, udara, berkedip, dll,nya.
nah..ini sudah kurenungkan, nanti aku posting di judul yang lain ya, inshaAllah .
Sudah Magrib nih, mau mandi dulu, terus....
Mau Shalat Magrib dan Tadarus #pencitraan ahahahahah #piss

Repost cerita ramadhan tahun lalu 2014
#Lots of Love
@bundameta

menikah bukanlah tujuan akhir

Weizz..ngeri banget ya judulnya, kesannya berat gitu ya, bahasnya soal nikah, soal jodoh, ahahahaaa :D
Membuat tulisan ini bukan karena aku iri kepada siapapun yang sudah menikah, bukan pula bentuk ratapan karena jodohku belum datang, bukan pula bentuk sensitifitas ku pada siapapun pasangan yang sudah menikah...Bukan..bukan..Insha Allah aku turut senang kepada siapapun yang sudah dipertemukan dengan jodohnya lalu menyegerakan perintahNya untuk menikah .

Setelah lulus kuliah di tahun 2012 dan sudah mulai konsisten berkarya di duniaku (pendidikan anak), ada salah satu mimpi dalam hidupku selanjutnya yaitu Menikah. Beberapa waktu yang lalu aku sempat terbawa arus sibuk mencari jodoh. Asyik deh hunting &beli buku-buku tentang pernikahan. Asyik menonton Film yang ada hubungannya dengan pernikahan. Rasa-rasanya Serba indah, hm..serba indah atau malah serba salah ya, hehe...

Sosial media juga semakin hari semakin gencar dengan berita atau artikel-artikel tentang jodoh dan pernikahan, sehingga berhasil banget membuatku kala itu hanya fokus pada persoalan jodoh dan menikah.
Membeli buku2 pernikahan, mencari informasi tentang hal-hal tersebut tentu tak ada salahnya, itu bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk usaha mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh dan pernikahan. Yang menjadi masalah adalah ketika kita kebablasan menganggap menikah sebagai tujuan akhir hidup kita. Iya kita tahu tujuan kita dihidupkan ke dunia ini itu untuk ibadah, dimana Ibadah itu memiliki makna yang luas, menikah juga salah satu bentuk ibadah. Namun karena saking fokusnya akan persoalan jodoh dan menikah, kenyataanya seringkali kita justru terlalu sibuk mengira-ira siapa jodoh kita hingga lupa akan hal lainnya. Hingga tanpa sadar kita mendahului sutradara dalam kehidupan kita yang sesungguhnya.  Postingan ini bukan bentuk tentangan akan hal jodoh dan menikah. Sudah sangat jelas diatas bahwa aku pun ingin menikah.
Postingan ini hanya bentuk renungan atas cerita hidupku sendiri saat *bar-bar,terlalu sibuk memikirkan mana jodohku, kapan aku menikah, dan sebangsanya.

Aku tak akan berlarut-larut menyesali fase hidupku yang lalu.
InshaAllah aku mulai bisa berdamai dengan masa lalu.
Bukankah menyesal itu tak profesional, kalau aku diam dan tak berbuat apa-apa.
Sekarang usiaku sudah 24th, sudah bukan remaja lagi, jalan pikiran dan sikapku tentulah sudah jauh berbeda dari meta setahun atau dua tahun yang lalu. Sudah seharusnya semakin mendewasa. Cara menyambut jodohnya pun sudah seharusnya tak kekanakan lagi. Tak boleh lupa bahwa jodoh & menikah bukan perkara manusia dengan manusianya lainnya saja, tapi lebih intim lagi, yaitu antara aku, Allah dan dia (jodohku).
Bila hingga detik ini masih sendiri, berarti masih diberi kesempatan belajar di kelas menumbuhkan prasangka baik padaNya, bahwa Allah masih mempercayakan kemuliaan itu pada diri ini.
Semangat mengisi dan menikmati hari-hari selanjutnya dengan banyak hal yang bermanfaat, teruslah belajar, jangan mengeluh dan ingatlah bahwa menikah hanyalah sebagian kecil dari perkara kehidupan. Meski kecil namun tetap harus kita sambut dengan suka cita dan kesiapan diri yang lebih matang.
Jadi ingat cuplikan-cuplikan obrolan dengan teman-teman yang sudah menikah, seperti ini:
“...Hei..kalau ingin menikah, berarti siap-siap terima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan kita ya”
(Terdengar mudah saat merasa asal sudah cinta, prakteknya? Embuh kuwi...)
“...kalau sudah mau menikah, jangan sampai mudah bilang pisah ya, menikah tak seperti saat pacaran yang dengan mudah bilang putus terus minta balikan terus putus terus balikan lagi..Hadeih..itu sih namanya belum SIAP nikah”
(Astagfirullah...itu minta cerai ya namanya,,jangan sampai Yaa Allah, Jangan.)
“...kalau ada jomblowan/jomblowati yang sering bilang begini, makanan sesederhana apapun asal dimakan dengan orang yang kita sayang pasti jadi lebih nikmat!”
( Huwee,,,itu ngga berlaku kalau lagi mabok pas hamil..huwek..gombale polll)

Lots of Love
@bundameta

Me-Time

“Mungkin mba meta lelah” hahahaa.....tak terasa seperti sebuah kalimat empati, lebih kepada kalimat penghiburan dari anak remaja satu itu.
Lelah? Siapa manusia yang tak pernah merasakan lelah? Tak ada aku berani jamin. Setiap kita pasti merasakannya, wajar karena kekuatan fisik kita ada limitnya. Ibarat Baterei Gadget yang kita miliki, ada masanya dia ngedrop, butuh jeda! Untuk mengisi baterei agar bisa full power lagi. Begitupun dengan kita, hmm..aku khususnya .

“Yaa Alloh...Saya tahu saya lelah..tapi saya tahu saya tak ingin menyerah dan tak bisa berhenti”

Menepi dan menjedalah sejenak untuk merefresh & mengisi power semangat dalam diri ini.

“EnjoyMe-Time.”

Lots of Love
@Bundameta